Powered by Blogger.
"CINTA KEPADA ALLAH MEMBAWA KETENANGAN..CINTA KEPADA RASULULLAH MEMBAWA KE SYURGA YANG KEKAL ABADI "
"Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahawa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik sebagaimana yang Engkau cintai" -Semoga dapat mengambil istifadah dan manfaat dari laman ini-

Thursday, July 29, 2010

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Di waktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.

"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"

Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"

Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"

Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"

Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membezakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeza. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan teladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadis Qudsi,:

" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."

Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)

Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

Monday, July 26, 2010

BARAKAH MALAM NIDFU SYAABAN

Pengertian nisfu Syaaban

Nisfu dalam bahasa arab bererti setengah. Nisfu Syaaban bererti setengah bulan Syaaban. Malam Nisfu Syaaban adalah malam lima-belas Syaaban iaitu siangnya empat-belas haribulan Syaaban.

Malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatul qadr. Saiyidatina Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa Nabi saw tidak tidur pada malam itu sebagaimana yg tersebut dalam sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi r.a:

Rasulullah saw telah bangun pada malam (Nisfu Syaaban) dan bersembahyang dan sungguh lama sujudnya sehingga aku fikir beliau telah wafat. Apabila aku melihat demikian aku mencuit ibu jari kaki Baginda saw dan bergerak. Kemudian aku kembali dan aku dengar Baginda saw berkata dlm sujudnya, “Ya Allah aku pohonkan kemaafanMu daripada apa yg akan diturunkan dan aku pohonkan keredhaanMu daripada kemurkaanMu dan aku berlindung kpdMu daripadaMu. Aku tidak dpt menghitung pujian terhadapMu seperti kamu memuji diriMu sendiri.”

Setelah Baginda saw selesai sembahyang, Baginda berkata kpd Saiyidatina Aisyah r.a. “Malam ini adalan malam Nisfu syaaban. Sesungguhnya Allah Azzawajjala telah dtg kpd hambanya pada malam Nisfu syaaban dan memberi keampunan kpd mereka yg beristighfar, memberi rahmat ke atas mereka yg memberi rahmat dan melambatkan rahmat dan keampunan terhadap orang2 yg dengki.”

Hari nisfu sya’aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib, (15 Sya’aban bermula pada 14 hb sya’aban sebaik sahaja masuk maghrib)

Thursday, July 22, 2010

KISAH CINTA SALMAN

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorangPersia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasadikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

Subhanallah kisah yg indah..^_^

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya!

Sumber: Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah

Tuesday, July 20, 2010

Kontrak hidup 2

Kontrak hidup 1

Ringankan belakangmu....kerana yang didaki terlalu curam....

KADANG-KADANG TERLEKA DENGAN DUNIA

Friday, July 16, 2010

SAIDINA ALI JATUH CINTA DENGAN FATIMAH AZ-ZAHRA

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Saturday, July 10, 2010

RASULULLAH MENANGIS SEBAB PERANGAI PEREMPUAN

RASULULLAH sedih ketika banyak i wanita mjd penghuni neraka

Rasulullah ceritakan pengalaman saksi balasan dahsyat ketika isra' mi'raj, Ali berkata: "Saya dengan Fatimah pergi menghadap Rasulullah SAW. Kami dapati beliau sedang menangis, lalu kami bertanya kepadanya, apakah yang menyebabkan ayahanda menangis, ya Rasulullah?" Baginda SAW menjawab: "Pada malam aku diisr'k hingga ke langit, di sana aku melihat perempuan dalam keadaan amat dahsyat. Dengan sebab itu aku menangis mengenangkan azab yang diterima mereka."

Ali bertanya: "Apakah yang ayahanda lihat di sana?" Rasulullah SAW menjawab: "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otak kepalanya menggelegak. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair di-curah ke dalam halkumnya (tekak). "Aku lihat perempuan yang digantung kedua kakinya terikat, tangannya diikat ke ubun-ubunnya, disuakan ular dan kalajengking. Aku lihat perempuan yang memakan dagingnya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Aku lihat perempuan mukanya hitam dan memakan tali perutnya sendiri. "Aku lihat perempuan yang telinga pekak dan matanya buta, diisikan ke dalam peti yang diperbuat daripada api neraka, otaknya keluar daripada lubang hidung, badan bau busuk kerana penyakit kusta dan sopak.

"Aku lihat perempuan yang kepalanya seperti babi, badannya seperti himar berbagai kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, kala dan ular masuk ke kemaluannya, mulut dan pelepasnya (punggung). Malaikat memukulnya dengan corong api neraka." Fatimah pun bertanya kepada ayahandanya: "Ayahanda yang dikasihi, beritakanlah kepada ananda, apakah kesalahan yang dilakukan oleh perempuan itu?"

Rasulullah menjawab: "Fatimah, adapun perempuan tergantung rambutnya itu adalah perempuan yang tidak menutup rambut daripada bukan muhrimnya. Perempuan tergantung lidahnya ialah perempuan yang menggunakan lidahnya untuk memaki dan menyakiti hati suaminya. "Perempuan yang digantung susunya adalah perempuan yang menyusukan anak orang lain tanpa suaminya. Perempuan kedua kakinya tergantung itu ialah perempuan yang keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya.

"Perempuan tidak mau mandi setelah haid nan nifas ialah perempuan yang memakan badannya sendiri, juga kerana ia berhias untuk lelaki bukan suaminya dan suka mengumpat orang. "Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka kerana ia memperkenalkan dirinya kepada orang asing, bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat lelaki lain. "Perempuan diikat kedua kakinya dan tangannya ke atas ubun-ubunnya, disuakan ular dan kala kepadanya kerana ia boleh sembahyang tetapi tidak mengerjakannya dan tidak mandi janabah. "Perempuan kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah ahli pengumpat dan pendusta. Perempuan rupanya seperti anjing ialah perempuan yang suka membuat fitnah dan membenci suaminya.

Seterusnya Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Perempuan menyakit hati suami dengan lidahnya pada hari kiamat nanti Allah jadikan lidahnya sepanjang 70 hasta kemudian diikat di belakang tengkoknya." Abu Bakar as-Sidik mengatakan, aku dengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Perempuan menggunakan lidah untuk menyakiti hati suaminya ia akan dilaknat dan kemurkaan Allah." Usamah bin Zaid menceritakan, bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Aku berdiri di atas syurga, kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah golongan miskin dan orang kaya tertahan di luar pintu syurga kerana dihisab. Selain daripada itu ahli neraka diperintahkan masuk ke dalam neraka, dan aku berdiri di atas pintu neraka, ku lihat kebanyakan yang masuk ke dalam neraka adalah perempuan."

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Aku lihat api neraka, tidak pernah aku melihatnya seperti hari ini, kerana ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya aku saksikan kebanyakan ahli neraka adalah perempuan." Rasulullah SAW ditanya, mengapa ya Rasulullah? Baginda SAW menjawab: "Perempuan mengkufurkan suaminya dan mengkufurkan ihsannya, Jika engkau membuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia belum berpuas hati dan cukup." (Hadis riwayat Bukhari)

Friday, July 9, 2010

PERSIAPAN SEBELUM BERPUASA

1. Banyak berpuasa di bulan Sya’ban; menjadi sunnah Nabi s.a.w. banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Untuk penjelasan lanjut tentang puasa di bulan Sya’ban, sila baca di blog Laman Fiqh Anda (http://fiqh-am.blogspot.com/2008/07/puasa-sunat-bulan-syaban.html) atau blog Artikel al-Qalam (http://koleksi-alqalam.blogspot.com/2008/08/persiapan-menjelang-ramadhan-siri-2.html).

2. Mengulangkaji ilmu tentang puasa; amalan yang paling utama di bulan Ramadhan ialah puasa. Puasa difardhukan pada siang hari sepanjang bulan Ramadhan. Untuk mencapai puasa yang sempurna kita hendaklah memiliki ilmu tentang bagaimana melaksanakan puasa yang sebenarnya sebagaimana yang dituntut oleh Syara’. Oleh itu, ada baiknya sebelum menjelang Ramadhan kita mengulangkaji ilmu-ilmu tentang puasa merangkumi;
1. Rukun-rukun puasa serta sunat-sunatnya
2. Perkara-perkara yang membatalkan puasa
3. Perkara-perkara yang boleh mengurangkan pahala puasa
4. Dan segala yang berkaitan dengan ibadah puasa

Untuk membaca tentang hukum-hakam puasa, sila baca di; Laman Fiqh Anda (
http://fiqh-am.blogspot.com/2008/07/puasa-mukadimah.html).

3. Membaca kembali hadis-hadis Nabi s.a.w. tentang fadhilat (kelebihan) puasa dan bulan Ramadhan; Ada di kalangan kita tidak merasa apa-apa dengan kedatangan Ramadhan. Bagi mereka, Ramadhan sama seperti bulan-bulan yang lain; tiba masanya ia datang dan tiba masanya ia berlalu pergi. Punca sikap ini adalah kerana mereka tidak mengetahui kelebihan dan keistimewaan bulan Ramadhan atau kerana mereka melupainya. Kerana itu amat perlulah hadis-hadis Nabi s.a.w. tentang fadhilat dan kelebihan Ramadhan dibaca dan diulangkaji kembali sebagai persiapan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Untuk menetahui sebahagian fadhilat puasa dan bulan Ramadhan, sila baca di blog Artikel al-Qalam; (
http://koleksi-alqalam.blogspot.com/2008/08/persiapan-menjelang-ramadhan-siri-4.html).

4. Mengetahui amalan-amalan utama dan besar pahalanya di bulan Ramadhan; supaya kita dapat memasuki bulan Ramadhan dengan penuh bersedia untuk memperbanyakkan amalan di bulan keberkatan yang banyak kelebihannya itu, kita hendaklah mengetahui apakah amal-amal ibadah atau amal-amal kebaikan yang digalakkan oleh Allah dalam bulan Ramadhan di mana pahalanya amatlah besar dan berlipat-ganda. Sila baca amalan-amalan utama ini dalam blog Artikel al-Qalam; (
http://koleksi-alqalam.blogspot.com/2008/08/persiapan-menjelang-ramadhan-siri-5.html).

Wallahu a’lam.1. Banyak berpuasa di bulan Sya’ban; menjadi sunnah Nabi s.a.w. banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Untuk penjelasan lanjut tentang puasa di bulan Sya’ban, sila baca di blog Laman Fiqh Anda (http://fiqh-am.blogspot.com/2008/07/puasa-sunat-bulan-syaban.html) atau blog Artikel al-Qalam (http://koleksi-alqalam.blogspot.com/2008/08/persiapan-menjelang-ramadhan-siri-2.html).

2. Mengulangkaji ilmu tentang puasa; amalan yang paling utama di bulan Ramadhan ialah puasa. Puasa difardhukan pada siang hari sepanjang bulan Ramadhan. Untuk mencapai puasa yang sempurna kita hendaklah memiliki ilmu tentang bagaimana melaksanakan puasa yang sebenarnya sebagaimana yang dituntut oleh Syara’. Oleh itu, ada baiknya sebelum menjelang Ramadhan kita mengulangkaji ilmu-ilmu tentang puasa merangkumi;
1. Rukun-rukun puasa serta sunat-sunatnya
2. Perkara-perkara yang membatalkan puasa
3. Perkara-perkara yang boleh mengurangkan pahala puasa
4. Dan segala yang berkaitan dengan ibadah puasa

Untuk membaca tentang hukum-hakam puasa, sila baca di; Laman Fiqh Anda (
http://fiqh-am.blogspot.com/2008/07/puasa-mukadimah.html).

3. Membaca kembali hadis-hadis Nabi s.a.w. tentang fadhilat (kelebihan) puasa dan bulan Ramadhan; Ada di kalangan kita tidak merasa apa-apa dengan kedatangan Ramadhan. Bagi mereka, Ramadhan sama seperti bulan-bulan yang lain; tiba masanya ia datang dan tiba masanya ia berlalu pergi. Punca sikap ini adalah kerana mereka tidak mengetahui kelebihan dan keistimewaan bulan Ramadhan atau kerana mereka melupainya. Kerana itu amat perlulah hadis-hadis Nabi s.a.w. tentang fadhilat dan kelebihan Ramadhan dibaca dan diulangkaji kembali sebagai persiapan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Untuk menetahui sebahagian fadhilat puasa dan bulan Ramadhan, sila baca di blog Artikel al-Qalam; (
http://koleksi-alqalam.blogspot.com/2008/08/persiapan-menjelang-ramadhan-siri-4.html).

4. Mengetahui amalan-amalan utama dan besar pahalanya di bulan Ramadhan; supaya kita dapat memasuki bulan Ramadhan dengan penuh bersedia untuk memperbanyakkan amalan di bulan keberkatan yang banyak kelebihannya itu, kita hendaklah mengetahui apakah amal-amal ibadah atau amal-amal kebaikan yang digalakkan oleh Allah dalam bulan Ramadhan di mana pahalanya amatlah besar dan berlipat-ganda. Sila baca amalan-amalan utama ini dalam blog Artikel al-Qalam; (
http://koleksi-alqalam.blogspot.com/2008/08/persiapan-menjelang-ramadhan-siri-5.html).

Wallahu a’lam.

Tuesday, July 6, 2010

RAHSIA WANITA BERTUDUNG LABUH

Seorang lelaki muslim yang bagus imannya akan terpaut hatinya kepada wanita muslim yang bagus imannya juga. Begitu juga sebaliknya. Ini adalah fitrah manusia. Saling tertarik apabila mereka mempunyai ciri-ciri dan kualiti yang hampir sama.

Manusia tidak dapat menilai kebaikan seseorang manusia lain melainkan setelah mengenali di antara satu sama lain. Jadi, perkara pertama yang menjadi ukuran seseorang pastinya melalui penampilannya. Melalui penampilannya, seseorang dapat diukur secara zahir bagaimana peribadinya. Samada seseorang itu baik, rajin, pandai, kelakar, garang, malas dan sebagainya masih belum pasti. First impression comes first.

Awal-awal Bertudung Labuh

aurat1

Sila klik gambar!

Wanita yang bertudung labuh atau dipanggil juga bertudung bulat memberi impressi (tanggapan pertama) bahawa dia wanita yang bagus agamanya. Ia cuma impressi sahaja. Belum tentu dia solehah atau tidak. Dan kebiasaannya wanita yang memakai tudung labuh ini berlatar belakangkan sekolah agama. Kerana mereka diwajibkan untuk memakai tudung labuh.

Ada sebahagian pelajar-pelajar agama ini, di sekolah mereka bertudung labuh. Tetapi apabila berada di luar sekolah mereka tidak lagi mengenakan pada diri mereka tudung labuh. Ada yang memakai tudung biasa sahaja. Tudung tiga segi, malahan skaf pun ada. Ada juga yang tidak menutup aurat secara sempurna, tetapi bilangan mereka sedikit sahaja.

Sekolah agama memberikan tarbiyyah. Ia membentuk anak-anak didiknya agar berada di landasan yang betul. Bagi pelajar muslimah di sekolah-sekolah agama, mereka diajar untuk menerapkan pakaian muslimah yang sejati pada diri mereka. Ini bertujuan untuk merealisasikan tuntutan ISLAM dalam berpakaian khas untuk wanita beriman.

ALLAH subhanahu wata’ala telah berfirman dalam al-Quran berkaitan etika berpakaian wanita beriman yang maksudnya:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya…” (Surah ke-24 an-Nur, ayat 31)

Pelajar-pelajar sekolah agama ini dikehendaki memakai uniform sekolah dan bertudung labuh, baju kurung yang longgar (tidak ketat), jenis kain yang tidak nipis dan berstoking panjang. Bukan itu sahaja, malahan hal batasan ikhtilat (percampuran lelaki & perempuan) turut diajar kepada mereka. Lelaki dan perempuan dipisahkan tatkala makan di kantin, tangga khas lelaki-perempuan, aktiviti kurikulum & ko-kurikulum kebanyakannya dipisahkan antara lelaki-perempuan dan sebaginya. Ini semua untuk dijadikan bekalan ilmu buat mereka serta mengamalkannya.

Bukan semua yang gembira dengan peraturan ini. Mereka terpaksa. Tetapi, memang begitulah proses pentarbiyyahan perlu dilakukan. Tanpa peraturan, mereka tidak akan patuh dengan kod pakaian yang ‘menyusahkan’ itu. Mereka pastinya mahu bebas dan bersantai-santai dalam berpakaian. Peraturan untuk berpakaian Islami ini adalah untuk kebaikan mereka sebenarnya. Kebaikan yang diukur dari kaca mata agama.

tudung

Sejuk mata tatkala terpandang...

Tahun demi tahun dalam keterpaksaan, lama-kelamaan mereka berasa selesa dengan bertudung labuh. Malahan ada yang jatuh cinta dengan cara berpakaian tudung labuh pula. Mereka membawa cara berpakaian yang penuh kesederhanaan ini ke luar sekolah. Hatta, sehingga habis sekolah. Sampai ke universiti, sampai ke alam pekerjaan.

Tetapi bilangan mereka yang tetap dengan tudung labuh tidak ramai disebabkan oleh beberapa faktor. Antara faktor-faktornya ialah kesesuaian pekerjaan (nature of work), trend, fesyen, akibat keluarga dan sebagainya. Yang paling penting ialah merekaMENUTUP AURAT dengan SEMPURNA. Samada bertudung labuh atau tidak, bukanlah menjadi ukuran utama. Kerana syariat hanya menyuruh mereka menutup aurat. Asal sahaja sudah menepati syariat, nah silakan…

Pandangan Masyarakat Terhadap Wanita Bertudung Labuh

Pentingkah pandangan masyarakat jika sesuatu yang diperbuat itu betul? Pentingkah untuk kita ambil pusing dengan kata-kata orang lain, jika apa yang kita amalkan menepati tuntutan syar’iyyah? Tak perlu, bukan? Saya sengaja melontarkan persoalan itu untuk sama-sama kita fikirkan. Agar kita tetap dengan pendirian kita jika apa yang kita buat itu betul, walaupun barangkali ada yang berkata itu dan ini.

Ada sebahagian dalam masyarakat memandang wanita yang bertudung labuh ini ketinggalan zaman, kolot, tak moden, tak ikut trend dan sebagainya. Namun, ada sebahagiannya juga memandang hormat, tinggi, segan dan mulia kepada mereka ini.

Hampir 100% pandangan yang saya temui mempunyai pandangan yang kedua, iaitu memandang tinggi dan hormat kepada wanita yang bertudung labuh. Malahan sebahagian yang tidak bertudung labuh ada yang menanam hasrat untuk bertudung labuh, tetapi segan dan malu disebabkan tidak pernah berpakaian seperti itu. Mahu, tetapi malu.

Saya secara peribadi ingin berterus-terang bahawa saya selalu didatangi perasaan yang damai tatkala terpandang wanita yang bertudung labuh. Apabila ternampak mereka dari jauh, rasa sejuk hati ini. Saya rasa ramai lelaki yang mempunyai perasaan seperti ini. Tetapi, kalau mat-mat rock, mat-mat punk, mat-mat rempit, mat-mat disko dan seumpama dengannya, saya rasa mereka takdelah perasaan macam ni. Eh, entah-entah pun ada perasaan yang sama…? Agaknya mereka pun rasa tersentuh, rasa beragama…

Perasaan yang datang apabila terlihat wanita bertudung labuh bukanlah perasaan ingin melakukan yang ‘bukan-bukan’. Sebagaimana apabila seseorang lelaki nampak perempuan seksi, apa yang terlintas di dalam hatinya pastilah sesuatu yang berkaitan dengan seks. Syahwat segera bernyala-nyala tatkala melihat wanita yang ‘buka-buka’.

Tetapi apabila ternampak wanita bertudung labuh, perasaan damai datang. Rasa ingin membimbing, membela dan mendidik wanita itu segera hadir. Malah datang juga perasaan beragama pada diri. Juga rasa ingin berkeluarga, keluarga yang soleh.

Ini bukan kesimpulan yang saya buat bagi diri saya sahaja. Malahan pernah saya dan kawan-kawan membicarakan hal ini suatu ketika dahulu. Di forum-forum Islami di internet juga tidak lepas membicarakan perkara yang sama. Ya, wanita bertudung labuh lambang wanita yang hidup beragama.

Isteri saya sendiri bertudung labuh. Sejak beliau di bangku sekolah, di universiti sehinggalah kini bekerja dan berumahtangga. Saya suka isteri saya bertudung labuh. Rasa damai dan tenang apabila saya berjalan di tengah ramai sambil saya memimpin tangan isteri. Rasa cinta dan rasa hidup beragama sentiasa mekar sehingga kini. Mudah2an beliau terus dengan bertudung labuhnya. Kerana mata dan hati ini sejuk apabila melihat beliau berpakaian begitu.

Kesimpulan

Tulisan ini bukan ditulis tanpa tujuan. Tulisan ini diharap dapat memberi motivasi kepada diri muslimah remaja yang berkira-kira ingin membuang tudung labuh dari tubuhnya. Sebahagian mereka rasa ketinggalan zaman. Rasa ‘takde orang nak’ orang yang bertudung labuh ini. Rasa terpinggir dengan berpakaian tudung labuh ini.

Percayalah, cara berpakaian sedikit sebanyak boleh mengawal diri dari kita melampaui batas. Dengan bertudung labuh, pasti akan ada setitik penyedar. Kita ingat siapa kita. Kita tak mahu diri terfitnah. Kita tak mahu agama terfitnah.

Janganlah dibuang tudung labuh itu dari tubuh kalian. Kalian nampak ayu dan sopan bertudung labuh. Kalian menimbulkan rasa ingin beragama di kalangan sebahagian manusia. Samada lelaki atau wanita, rasa beragama tiba-tiba datang tatkala kalian muncul. Yang paling penting ialah berpakaian seperti itu jika betul niatnya dan caranya, kalian akan diredhai ALLAH.

Akhir sekali, ingatlah! Bahawa beramallah kerana ALLAH. Ikhlas kerana ALLAH. Ikut cara ALLAH. Bermatlamatkan ALLAH. Bukan disebabkan hal lain. Mudah2an kita semua digolongkan di dalam golongan solihin, amin…

SHAHMUZIR NORDZAHIR
www.muzir.wordpress.com
14 NOVEMBER 2009

Monday, July 5, 2010

wanita SOLEHAH TIADA tandingan...

"sebaik-baik wanita adalah wanita solehah....dia pandai menjaga dirinya tatkala dimana dia berada.."hatinya teguh hanya beramal kerana Allah....tudung litupnya membuktikan yang dia tetap teguh dengan pendiriannya yang hidupnya hanyalah untuk Allah..."

Thursday, July 1, 2010

gelaran "SOLEHAH"


Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelaran solehah, dan seterusnya menerima habuan syurga yang penuh keni'matan dari Allah s.w.t. . Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat sahaja, iaitu:

1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:

1- Taat kepada Allah dan RasulNya.
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat.
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah.
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki ajnabi kecuali ada bersamanya mahramnya.
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan takwa.
- Berbuat baik kepada dua ibubapa.
- Sentiasa bersedekah samada dalam keadaan susah ataupun senang.
- Tidak berkhalwat dengan lelaki ajnabi.
- Bersikap baik terhadap jiran tetangga.

2. Taat kepada suami.
- Memelihara kewajipan terhadap suami.
- Sentiasa menyenangkan suami.
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya semasa suami tiada di rumah.
- Tidak cerewet.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur.
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fizikal dan kecantikannya serta kebersihan rumahtangga.

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA

Apabila kita melihat bahawa punca rendahnya martabat wanita adalah datangnya dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaiamana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1- Lupa mengingati Allah

Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan aktiviti luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairan jika ramai wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingati Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: Ertinya: " Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."

Sabda Rasulullah s.a.w.: Ertinya: "Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan sahaja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu, muzakrah atau sebagainya.

2- Mudah tertipu dengan keindahan dunia

Keindahan dunia dan keseronokkannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan setakat itu sahaja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Bukan sedikit yang sanggup menderhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana keni'matan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An'am: Ertinya:" Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir."

Moga ada manfaat.

والله أعلم

wibiya widget

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP